Sabtu, 01 Juli 2017

Kasihan.. Lapor Kehilangan Motor ke Polsek, Rian Malah Diminta Uang Rp400 Ribu




SURABAYA – Nasib sial menimpa Rian Kristian ((28) warga Jalan Lebak Permai II Utara nomor 35 Surabaya, Jatim. Bagaimana tidak, sudah kehilangan motor kesayangan, namun masih dimintai uang Rp400 ribu oleh oknum petugas SPK Polsek Kenjeran, Aipda MF.

Karena tidak punya uang, akhirnya korban pulang ke rumah untuk mencari pinjaman uang pada keluarga dan tetangga. Tetapi korban tidak juga mendapatkan pinjaman uang pada sore itu. Padahal, laporan surat kehilangan dari kepolisian sangat dibutuhkan.

Sebab motor korban yang hilang jenis Scoopy nopol L 6048 FD masih kredit, dan hendak dilaporkan pada leasing FIF. Pasalnya, pihak leasing meminta bukti kehilangan dengan surat laporan dari kepolisian.

“Saat saya laporan kehilangan motor bersama teman ke SPK Polsek Kenjeran dimintai Rp 400 ribu kemarin sore, katanya untuk biaya alternatif. Karena tidak punya uang, akhirnya saya pulang dengan rasa kecewa,” terang Rian pada wartawan, Jumat (9/6/2017).  

Ia menceritakan, motornya hilang saat parkir di samping rumah temanya, Yanto, warga Jalan Pogot Jaya I Surabaya. Saat itu korban sedang membetulkan HP di rumah sang teman. Setelah selesai membetulkan HP yang diservice, korban hendak pulang.

Alangkah kagetnya ketika tahu motor kesayangan hilang. Di tempat parkir motornya hanya tersisa helm milik korban, yang ditaruh di bawah pintu rumah temannya oleh pencuri yang telah kabur.

Sementara itu, Kapolsek Kenjeran Kompol Achmad Faisol Amir, membantah jika dalam laporan kehilangan korban harus membayar sejumlah uang pada petugas SPK. Karena laporan kehilangan tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis.

“Kalau ada indikasi oknum yang masih melakukan hal-hal yang menyalahgunakan kewenagannnya akan dilakukan tindakan tegas,” ucap Faisol.

Kini korban kembali melaporkan motornya yang hilang di SPK Polsek Kenjeran, dan sudah mulai diproses oleh penjaga SPK. (sym)


(erh)

Sumber : Okezone.com


Mencuri Pisang karena kelaparan, Kakek 75 tahun di tuntut 18 bulan penjara




Seorang Kakek bernama darsito yang Berusia 75 tahun terpaksa harus berurusan dengan pihak berwajib setelah mencuri 2 sisir pisang gepok dan memasuki perkebunan orang tanpa izin.Saat di periksa oleh petugas kakek darsito mengakui telah mengambil tanpa izin 2 sisir pisang gepok karena dirinya kelaparan karena sudah hampir 3 hari tidak makan.

Sementara itu Pemilik Kebun M.darmono mengatakan dirinya sengaja melaporkan kepihak kepolisian agar memberikan efek jera karena dirinya mengakui sudah sering kehilangan buah pisang di kebun nya, menurutnya setiap hari pasti ada saja pisang yang hilang dari kebun nya dan kebetulan gubuk kakek darsito berada di belakang kebun saya, pas saya cek ke gubuknya sama lihat banyak kulit pisang dan masih ada 2 sisir lagi yang belum di makan.

kasus ini sendiri sudah dinyatakan lengkap dan akan segera di sidangkan, jaksa penuntut sendiri menuntut kakek darsito dengan pasal tindak pidana pencurian ringan (Pasal 364 KUHP) dengan ancaman hukuman maksimal 18 bulan penjara.

Admin setuju apapun yang namanya tindakan mencuri adalah kesalahan. Namun demikian jangan lupa hukum juga mempunyai prinsip kemanusiaan, Pantaskah kakek darsito dihukum hanya karena mencuri 2 sisir pisang gepok yang harganya mungkin tidak lebih dari RP 50.000 ribu rupiah Dimana prinsip kemanusiaan itu?

Mari kita SHARE Beramai – Ramai karena tidak ada media online yang memberitakan kejadian ini. itulah hukum di indonesia tajam kebawah namun tumpul ke atas !!!! Kasus kecil diseriusi, tapi kasus-kasus besar jarang sampai ke pengadilan

Sumber : Berita4.com




Curi sandal Polisi Seharga 30 Ribu, Pelajar SMK Dituntut 6 tahun penjara




AAL remaja berusia 15 tahun, pelajar SMK Negeri di kota Palu tentu Tidak menyangka Karena aksi mencuri sandal jepit seharga 30 ribu dirinya harus duduk di meja hijau, AAl di dakwa mencuri sandal jepit di kost – kostan yang di tempati oleh seorang brigadir polisi

Akibat perbuatannya AAL selain tidak bisa melanjutkan sekolahnya, dirinya juga di tuntut 6 tahun penjara seperti yang di bacakan oleh jaksa Naseh karena terbukti melakukan tindak pidana pencurian pasal 362 Kuhp dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

Terdakwa AAL didampingi Penasihat Hukum Elvis Dj Katuwu yang sampai akhir persidangan terus berkata tak habis pikir lantaran kasus ini bisa sampai ke pengadilan.

“Masih banyak kasus-kasus besar yang harus kita prioritaskan. Ini kasus kenakalan anak-anak biasa. Pelakunya pun di bawah umur. Semestinya sejak awal kasus ini berakhir dengan jalan lebih bijak ketimbang membawanya ke pengadilan kata Elvi

Persidangan kasus ini berlangsung tertutup karena AAL berstatus di bawah umur. Sebanyak 10 orang penasihat hukum mendampingi AAL lantaran menganggap kasus ini penting menjadi bahan pelajaran hukum bagi masyarakat umum.

“Kasus kecil diseriusi, tapi kasus-kasus besar jarang sampai ke pengadilan” sahut Elvis. Akhirnya, hanya untuk kasus pencurian sandal seharga Rp 30 ribu saja, AAL terancam 5 tahun penjara

Admin berita4.com setuju apapun yang namanya tindakan mencuri adalah kesalahan. Namun demikian jangan lupa hukum juga mempunyai prinsip kemanusiaan, Pantaskah remaja berusia 15 tahun dihukum hanya karena mencuri sepasang sandal yang harganya hanya 30 ribu, Dimana prinsip kemanusiaan itu?

Mari kita SHARE Beramai – Ramai karena tidak ada media online yang memberitakan kejadian ini. itulah hukum di indonesia tajam kebawah namun tumpul ke atas !!!!

Sumber : Berita4.com




Rabu, 14 Juni 2017

Islam Agama Pertama yang Terapkan Toleransi




Di tengah suasana saling tuduh intoleran yang sedang merundung persada Nusantara masa kini, kita semua perlu menyimak pernyataan mahaguru etika saya, Prof. Dr. Frans Magnis Suseno SJ bahwa Islam adalah agama pertama yang menerapkan toleransi.

Menurut Romo Frans kekristenan baru menghidupkan toleransi sekitar abad XVIII. Sementara Katolik baru 50 tahun yang lalu melahirkan Konsili Vatikan II sebagai landasan mazhab kerukunan antar umat beragama.

Selama lebih dari 1400 tahun sebelumnya, umat Kristen hidup sebagai komunitas-komunitas kecil di Mesir, Libanon, Irak, Pakistan, dll.
Orang-orang Yahudi hidup di Timur Tengah yang mayoritas dipimpin oleh para pemimpin Islam demikian ungkap Romo Frans saat menjadi narasumber dalam Simposium Memahami Nilai-nilai Pancasila di Paroki Maria Bunda Karmel Tomang, Jakarta.

Untuk konteks Indonesia, Romo Frans menjelaskan, saat para pemuda dari berbagai agama dan suku duduk bersama untuk merumuskan naskah Sumpah Pemuda terlihat dengan sangat jelas bahwa umat Muslim sebagai mayoritas tidak memaksakan diri untuk mengangkat sumpah berdasarkan agama.

Demikian pula Sukarno ketika merumuskan Pancasila.

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia bersedia “merendahkan diri” untuk merangkul umat beragama lain dalam menetapkan falsafah hidup bersama.

Yang mayoritas wajib mengayomi yang minoritas, namun yang minoritas juga wajib tidak melukai hati apalagi menghina yang mayoritas.

Pencerahan Romo Frans sangat berharga untuk kita bersama hayati demi menepis tudingan intoleran terhadap umat Islam di Indonesia.

Berdasar pengalaman pribadi sebagai umat Kristen di Indonesia, secara empirik saya selalu memperoleh kesan positif terhadap sikap toleran para sesama warga Indonesia yang beragama Islam.


Sesuai wejangan dua mahaguru Islam saya, Gus Dur dan Cak Nur tentang “Agamamu agamamu, agamaku agamaku” maka saya tidak pernah mengalami pengalaman buruk dari teman-teman Muslimin yang tentu saja beda tafsir akibat beda agama dengan diri saya.

Dalam suasana tabayyun saling mengerti, menghormati dan menghargai, kami dapat bertukar pikiran bahkan berdebat tanpa sedikit pun kecurigaan apalagi kebencian.

Dengan sahabat saya yang tokoh cendekiawan Islam Dr. Hidayat Nur Wahid, saya sempat berseberangan pendapat sampai bahkan berdebat sengit di kantor Ketua MPR mengenai Undang-Undang Pornografi. Namun seusai berdebat, kami berdua kembali bersahabat secara damai sejahtera.

Prof Dr Salim Said yang kebetulan beragama Islam merupakan mahaguru politik saya tanpa pernah mengalami masalah akibat kita berdua beda ras dan beda agama.

Dalam wawancara dengan Habib Muhammad Rizieq Shihab, saya memperoleh kesadaran bahwa di dalam kitab suci Al Quran terdapat ayat-ayat yang secara khusus dan eksplisit mengajarkan kerukunan antar umat beragama.

Maka secara khusus pula saya berguru kepada Habib Rizieq khusus fokus pada ayat-ayat kerukunan antar umat beragama di dalam Al Quran yang terpaksa terus terang saya akui masih belum kunjung tuntas pelajari berhubung keterbatasan daya tangkap dan daya tafsir diri saya sendiri.

Ketika berkunjung ke masjid Aa Gym di Bandung, secara langsung saya merasakan ketulusan keramahtamahan umat Islam menerima saya yang beragama Nasrani sebagai tamu yang terhormat. Bahkan pada saat itu, Aa Gym secara khusus berkhotbah mengenai sejarah Islam masuk Indonesia dibawa oleh para warga dari negara China nun jauh di sana sebagai penghormatan khusus bagi saya yang secara sosio-biologis kebetulan memang tergolong keturunan China.

Apabila ingin melihat toleran pada kenyataan sikap dan perilaku maka silakan berkenalan dengan mahaguru budi pekerti saya yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih merakyat dengan nama Gus Mus yang juga mahasastrawan itu.

Segenap fakta itu merupakan bukti yang menggarisbawahi kebenaran pernyataan Romo Frans Magnis Suseno bahwa Islam adalah agama pertama yang menerapkan toleransi.

Oleh: Jaya Suprana

Sumber : Ngelmu.id




Wacana Penghapusan Pendidikan Agama, Ini Respons MUI

Oleh Bara Ilyasa



JAKARTA - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'di menanggapi wacana penghapusan pendidikan agama di sekolah. Jika wacana itu benar maka merupakan tindakan yang melanggar Undang-Undang.

"Gagasan tersebut jelas bertentangan dengan UU Nomor 20 TAHUN 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya Pasal 12 (1) butir a. UU tersebut mengamanatkan bahwa setiap peserta didik pada setiap Satuan Pendidikan berhak: mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama," ujar Zainut kepada TeropongSenayan, di Jakarta, Rabu (14/6/2017).

Zainut menjelaskan dalam UU tersebut jelas ditegaskan adanya kewajiban memberikan pendidikan agama di setiap satuan pendidikan. Artinya, kata Zainut, satuan pendidikan dalam UU ini sebagaimana tertulis dalam ketentuan umum adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

"Jadi setiap siswa yang menempuh pendidikan baik itu di jalur formal, nonformal maupun informal itu berhak mendapatkan pendidikan agama, dan sekolah wajib memberikan pendidikan agama kepada siswa bahkan lebih ditegaskan dalam UU tersebut," tegas anggota DPR RI dari Fraksi PPP

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menetapkan bahwa pelajaran madrasah diniya bisa mengkonversi pelajaran agama. Selanjutnya, sekolah dapat mengajak siswa belajar di masjid, madrasah maupun rumah ibadah ataupun mendatangkan guru madrasah ke sekolah.

Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy, jika sudah dapat pelajaran agama di luar kelas, otomatis pejaran tersebut bisa melengkapi pendidikan agama di dalam kelas."Sama sekali tak benar anggapan bahwa saya akan menghapus pelajaran agama. Yang ada adalah pelajaran yang ada di madrasah diniyah akan melengkapi, " ujar Muhadjir, di Jakarta, Selasa (13/6/2017).(plt)






Bikin Umat Islam Geram; 5 Pemuda Berpose Shalat Sambil Berlagak Mabuk




Pinrang - Lima pemuda jadi buah bibir setelah mengunggah foto mereka sedang melakukan gerakan salat, tetapi seraya berlagak bak orang yang sedang mabuk. Selain bergaya tak pantas, mereka juga menampilkan gerakan salat dengan bertelanjang dada. Sementara, salah seorang rekan mereka hanya memperhatikan saja.

Pantauan Liputan6.com, foto yang terkesan melecehkan itu pertama kali diunggah oleh pemilik akun Facebook Rusli Kemboz. Pemuda itu beralamat di Kelurahan Salo, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Foto itu mendadak sontak menuai kecaman dan kritikan dari warganet. Pemilik akun Facebook Iswandi Haris mengomentari foto tersebut itu dengan meminta polisi mengamankan para pemuda itu karena dianggap telah melecehkan salat yang menjadi salah satu rukun Islam.

"Ini seperti di dalam masjid. Penistaan agama ini, pak Polisi mana ini? Kenapa tidak diamankan?" tulis Iswandi Haris di kolom komentar.

Senada dengan komentar para warganet, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pinrang, AGH Yunus Samad, juga mengecam tingkah tak etis para pemuda lewat foto yang diunggah tersebut. Ia meminta aparat hukum untuk mencari dan menangkap para pemuda tersebut.

"Salat ini tiangnya agama dan sakral dalam Islam. Ini sama saja melecehkan agama," kata Yunus saat dikonfirmasi pada Selasa, 13 Juni 2017.

Dihubungi terpisah, Kapolres Pinrang AKBP Adhi Purboyo mengaku belum mengetahui perihal foto yang menjadi viral tersebut. Meski begitu, ia menegaskan pihaknya akan segera menyelidiki kasus tersebut. Jika terbukti ada indikasi pelecehan, polisi akan menangkap para pemuda tersebut.

"Akan segera kami lakukan penyelidikan dan jika terbukti kami akan tindak tegas sesuai hukum yang berlaku," kata Adhi.

Belakangan dengan banyaknya warganet yang mengecam, pemilik akun Facebok tersebut telah menghapus foto gerakan salat kontroversial itu. (liputan6)

Sumber : Umatuna.com




Selasa, 13 Juni 2017

Tidak Terbukti Makar, Fadli Zon Minta Al Khaththath Dibebaskan




Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menilai tuduhan makar dari Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath tidak terbukti.

Karena itu Fadli meminta Al Khaththath segera dibebaskan dari tahanan Mako Brimob.

"Polisi bebaskan Khaththath kalau tak ada sesuai dituduhkan makar itu," ujar Fadli Zon, Sabtu (10/6/2017).
Fadli memaparkan dalam proses penyidikan, nasib Al Khaththath tidak jelas saat ini.

Pasalnya masa penahanan Sekjen FUI itu sudah dilakukan sebanyak dua kali.

"Al Khaththath sendiri yang sampe sekarang tidak jelas bagaimana posisi dan kedudukannya, sudah dua kali diperpanjang," ujar Fadli.

Wakil Ketua Umum Gerindra itu menilai jika pihak kepolisian tidak tegas menindak, maka menimbulkan pertanyaan kepada publik.

Ketidakpastian hukum di mata masyarakat menurut Fadli akan terjadi.

"Ini menimbulkan ketidakpastian hukum, membuat hukum alat kekuasaan," ujar Fadli.

Fadli menambahkan jika memang tidak terbukti, sebaiknya pihak kepolisian jangan mencari-cari kesalahan baru terhadap Al Khaththath.

"Kalau kesalahan diperpanjang itu membuat orang semakin tak percaya hukum," kata Fadli. 

Sumber : Tribunislam.com




Jadi Pergi 

Layanan “Traveling” terlengkap untuk kebutuhan perjalanan Anda, yang meliputi: Paket Wisata, Tiket Pesawat, Tiket Kereta Api, Reservasi Hotel, Tiket Kereta Bandara (Railink) dan Travel & Bus Berjadwal dalam satu layanan yang terintegrasi dengan berbagai metode pembayaran yang lengkap dan mudah.  
 

http://www.jadipergi.com
 

Terpopuler